Rabu, 09 November 2016

Danau Sentarum

Danau Sentarum

Resize of danau sentarum

 


Danau Sentarum ,Taman Nasional Danau Sentarum merupakan perwakilan ekosistem lahan basah danau, hutan rawa air tawar dan hutan hujan tropik di Kalimantan. Taman Nasional ini mencakup Bukit Lanjak, Nanga Kenelang dan Bukit Tekenang untuk melihat panorama danau, bersampan dan pengamatan satwa burung dan penelitian yang dilengkapi sarana laboratorium.
Kehidupan masyarakat yang berada di sekitar taman nasional yaitu suku Dayak Iban, Sebaruk, Sontas, Kenyah dan Punan masih tradisional. Rumah panjang (Betang) yang dihuni oleh suku tersebut beragam besarnya, ada yang dihuni lima sampai delapan kepala keluarga dan ada yang dihuni 15 sampai 30 kepala keluarga. Rumah panjang yang dihuni 15 – 30 kepala keluarga, mempunyai panjang rata-rata 186 meter dan lebar 6 meter. Kehidupan di rumah betang memperlihatkan suatu kerukunan, kepolosan dan keramahtamahan suku tersebut, dan biasanya wisatawan akan disuguhi tarian dayak
Taman Nasional Danau Sentarum memiliki tumbuhan khas dan asli yaitu tembesu/tengkawang (Shorea beccariana). Selain itu juga terdapat tumbuhan hutan dataran rendah seperti jelutung (Dyera costulata), ramin (Gonystylus bancanus), meranti (Shorea sp.), keruing (Dipterocarpus sp.), dan kayu ulin (Eusideroxylon zwageri).
Sistem perairan dari danau air tawar dan hutan tergenang ini menjadikan Danau Sentarum tidak seperti danau-danau lainnya. Airnya bewarna hitam kemerah-merahan karena mengandung tannin yang berasal dari hutan gambut di sekitarnya. Pada saat musim hujan, kedalaman air danau tersebut dapat mencapai 6-8 meter dan menyebabkan tergenangnya hutan sekitarnya. Tetapi, pada saat musim kemarau, dimana tinggi air di Sungai Kapuas berangsur-angsur turun, air dari Danau Sentarum akan mengalir ke Sungai Kapuas sehingga debit air di sungai tersebut relatif stabil. Akhirnya pada saat puncak musim kemarau, keadaan Danau Sentarum dan daerah sekitarnya akan menjadi hamparan tanah yang luas. Ikan-ikan yang tadinya berada di danau, akan terlihat di kolam-kolam kecil
Danau Sentarum sebagai danau musiman yang berada di taman nasional ini terletak pada sebelah cekungan sungai Kapuas, yaitu sekitar 700 km dari muara yang menuju laut Cina Selatan. Dibatasi oleh bukit-bukit dan dataran tinggi yang mengelilinginya, Danau Sentarum merupakan daerah tangkapan air dan sekaligus sebagai pengatur tata air bagi Daerah Aliran Sungai Kapuas.
Cara pencapaian lokasi: Pontianak-Sintang-Semitau menggunakan kendaraan roda empat sekitar 11 jam atau Sintang-Semitau menggunakan longboat (bandong) ditempuh sekitar tujuh jam. Dari Semitau ke lokasi menggunakan perahu motor jurusan Lanjak. Pontianak-Putussibau dengan pesawat terbang sekitar dua jam dan dari Putussibau ke Nanga Suhaid dengan longboat sekitar tujuh jam.
 
Budaya Lokal yang Unik

sentarum01 dephut 
Sebagai kawasan yang kaya akan potensi sumber daya alam, Danau Sentarum juga tempat tinggal masyarakat dari berbagai suku di Kapuas Hulu yang hidup sebagai nelayan, pemungut hasil hutan yaitu Kayu, Madu, Damar, Rotan dan sebagainya. Karena merupakan kawasan konservasi, masyarakat mulai memanfaatkan sumber daya alam secara lestari seperti petani kerambah ikan, pengelolaan ikan Arwana secara lestari, cara pemanenan hasil madu yang disebut tikung dan sebagainya. Ada satu pola hidup yang unik para nelayan yang berdiam dan mencari ikan didanau-danau ini, sebagian besar dari mereka bukan penduduk asli perkampungan danau, tapi berasal dari kecamatan-kecamatan terdekat seperti selimbau, badau, lanjak, semitau, suhaid, piasak. Banyak diantara mereka yang hanya datang pada saat tangkapan ikan cukup memuaskan atau pada musim kemarau, dan kembali lagi ketempat asal mereka ketika air sudah mulai pasang yang artinya ikan-ikan sudah mulai sulit untuk didapat, tapi ada juga yang sudah permanen dalam membudidayakan ikan melalui keramba dan mereka inilah yang kemudian membentuk perkampungan-perkampungan nelayan yang lumayan ramai seperti sekulat, leboyan, dan hampir 99% diantara mereka adalah suku melayu yang memang mata pencaharian mereka adalah diair, tidak seperti suku dayak yang mengusahakan tanah sebagai kebun dan ladang.



Sejarah Berdirinya Taman Nasional Danau Sentarum

Danau Sentarum telah menjadi pusat perhatian ahli-ahli geologi asing sejak lebih kurang dua abad yang silam. Perhatian terhadap kekayaan, keunikan dan keindahan kawasan danau-danau yang terletak di hulu Sungai Kapuas ini semakin besar ketika zaman pemerintahan Kolonial Belanda, ini terlihat dari dikirimnya seorang komisionaris bernama Hartmann pada tahun 1823 untuk mengunjungi kawasan Danau Sentarum dan sekitarnya guna menjalin hubungan kerja sama dengan penguasa daerah setempat (Kerajaan Selimbau, Suhaid, Jongkong, Bunut dan Kerajaan kecil Piasa). Kemudian mereka membuat suatu risalah dengan para penguasa tersebut, yang diatur oleh seorang wakil residen Sintang berkebangsaan Belanda, bernama Baronvan Lijnden.




Beberapa tahun kemudian, sekitar tahun 1852, seorang wanita terkenal sebagai pemimpin pergerakan feminisme yang bernama Ida Pfeiffer datang berkunjung kekawasan ini dan menceritakan tentang keunikan dan keindahan pemandangan alam di daerah Danau Sentarum ini. Kemudian pada tahun 1867, seorang pencinta alam berkebangsaan Italia yang bernama Beccari datang berkunjung ke komplek Danau Sentarum ini. Dalam penjelajahannya di daerah ini, Beccari banyak menemukan jenis-jenis tumbuhan yang mempunyai keunikan tersendiri, sehingga menimbulkan minat besar bagi para peneliti lain untuk melakukan eksplorasi kekayaan sumber daya alam yang dimiliki daerah ini, seperti pada ekspedisi Borneo yang dilakukan selama satu tahun (1893–1894). Kemudian berbagai kelompok pencinta alam dan pelancong, petualang maupun para peneliti ilmiah silih berganti datang ke kawasan ini. Dari hasil kegiatan tersebut mereka menuliskan laporan maupun catatan mengenai berbagai hal, termasuk menuliskan laporan mengenai jenis-jenis tumbuhan dan keragaman jenis-jenis ikan yang terdapat di daerah-daerah danau di Kapuas Hulu pada kurun waktu satu setengah abad yang lalu (Giesen. 1987).



Para peneliti dari Indonesia juga tidak mau ketinggalan dalam hal ini, dan pada tahun 1981, Fakultas Perikanan IPB melakukan studi mengenai perikanan di daerah Kapuas Hulu. Tetapi laporan tersebut hanya dipublikasikan secara terbatas. Dua tahun kemudian (1983), Ave dan kawan-kawan menerbitkan sebuah buku mengenai bibilografi Kalimantan Barat yang berisi tentang seluruh hasil kerja yang pernah dilakukan di daerah Kapuas Hulu.

Karena keanekaragaman hayatinya yang istimewa ini dan karena sifatnya yang unik pemerintah Indonesia telah menetapkan kawasan Danau Sentarum sebagai Suaka Margasatwa pada tahun 1982. Indonesia juga mengakui perana penting kawasan ini secara internasional dan mendaftarkannya sebagai lahan basah berstatus internasional pada konvensi Ramsar pada tahun 1994.


Guna melestarikan sumber daya alam yang bernilai tinggi ini Pemerintah Indonesia dan ODA dari Inggeris pada tahun 1992 s/d 1996 membentuk suatu program kerja sama dalam bidang konservasi kawasan. Meskipun program kerja sama yang dilaksanakan oleh Wetland International Indonesia Program (WI-IP) dan Dirjen PHKA dalam hal ini diwakili oleh Balai KSDA Kalimantan Barat tersebut tujuan utamanya adalah melestarikan kekayaan dan keunikan satwa liar yang terdapat dalam kawasan Danau Sentarum, namun tetap melihat bahwa kelangsungan hidup kawasan ini tidak dapat dipisahkan dengan pemanfaatan oleh penduduk setempat yang telah berlangsung secara turun temurun. Berkenaan dengan hal tersebut maka program kerjasama ini dirancang dengan memadukan antara program konservasi dengan pengetahuan serta gagasan yang dimiliki penduduk Danau Sentarum.

Untuk menuju arah pengelolaan yang dapat memadukan antara pelestarian dan pemanfaatan pada tahun 1999 status kawasan ini dirubah menjadi Taman Nasional. Dengan melakukan hal-hal tersebut pemerintah telah komitmen untuk memelihara integritas ekologis kawasan danau sentarum sepanjang masa.

Danau Sentarum, Danau Unik dan Langka Di Jantung Borneo

 
Kawasan Danau Sentarum
Terletak di jantung Borneo atau tepatnya di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Kawasan Danau Sentarum yang merupakan komplek danau-danau  yang terdiri dari  20 buah danau besar kecil,  sejak tahun 1999 ditetapkan sebagai Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) dan mempunyai luas 132.000 Hektar.  Berada 700 kilometer timur laut Kota Pontianak itu, TNDS terdiri atas 89.000 hektar hutan rawa tergenang dan 43.000 hektar daratan.

Danau Unik dan Langka

Danau Sentarum sungguh berbeda dengan danau ‘konvensional’ lainnya, sebab Danau Sentarum sejatinya adalah daerah hamparan banjir (lebak lebung /floodplain).  Dengan letak dan kondisinya yang berada di tengah-tengah jajaran pegunungan menjadikan kawasan ini sebagai daerah tangkapan hujan. Pada musim penghujan Komplek Danau Sentarum akan terendam air akibat aliran air dari pegunungan di sekelilingnya dan dari luapan Sungai Kapuas yang merupakan Sungai terpanjang di Indonesia. Selama 9-10 bulan dalam setahun, kawasan Danau Sentarum akan terendam hingga kedalaman 6 – 14 meter.  Diperkirakan tersimpan 16 triliun meter kubik air per tahun di kawasan ini.  Dan uniknya pada musim kemarau panjang, sebagian besar danau menjadi kering.
 
Pada musim penghujan tergenang triliyunan meter kubik air
 
Pada musim kemarau menjadi hamparan kering dan terkadang ditumbuhi rumput laksana padang golf.
 
Hanya tersisa alur sungai kecil di tengahnya.
Hal inilah yang menjadikan kawasan Danau Sentarum merupakan salah satu tipe ekosistem hamparan banjir paling luas yang langka dan masih tersisa dalam kondisi baik di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara.
 
Salah satu pemandangan pemukiman masyarakat setempat di-shoot dari sudut yang sama.  Saat banjir dan surut.

Kekayaan Flora dan Fauna

Namun, bukan fenomena alam ini saja yang menjadi keunikan Danau Sentarum. Danau yang terbentuk pada zaman es atau periode pleistosen ini memiliki kekayaan flora dan fauna yang luar biasa dan tak dimiliki daerah lain. Tumbuhannya saja ada 510 spesies dan 33 spesies di antaranya endemik TNDS, termasuk 10 spesies di antaranya merupakan spesies baru.
Hewan mamalia di TNDS ada 141 spesies. Sekitar 29 spesies di antaranya spesies endemik, dan 64 persen hewan mamalia itu endemik Borneo. Terdapat 266 spesies ikan, sekitar 78 persen di antaranya merupakan ikan endemik air tawar Borneo. Kawasan Taman Nasional Danau Sentarum tercatat sebagai salah satu habitat ikan air tawar terlengkap di dunia.
Selain hutan yang bagus dan menjadi habitat lebah, TNDS juga menjadi habitat berbagai jenis ikan air tawar. Dari segi ukuran, misalnya, ada jenis ikan terkecil, yang dikenal dengan nama ikan Linut (sundasalanx cf. microps) berukuran 1-2 sentimeter dengan tubuhnya yang transparan seperti kaca, hingga ikan berukuran panjang dua meter seperti ikan Tapah dari genus Wallago.
Adapun ikan yang bernilai ekonomis dan di konsumsi warga, misalnya, ada ikan gabus, toman, baung, lais, belida, dan jelawat. Khusus ikan hias, di TNDS terdapat ikan silok atau Arwana (scleropages formosus) dan dan Ulang-uli (botia macracranthus) yang berhasil menembus pasaran internasional dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi.  Pada kawasan ini tercatat paling tidak 120 jenis ikan,  serta terdapat beberapa jenis spesies yang hanya dimiliki oleh Danau Sentarum dalam artian tidak ditemukan di belahan dunia lain.
 
Arwana/Siluk Merah
 
Ulang Uli

 
Buaya Senyulung
Selain itu terdapat 31 jenis Reptilia.  Delapan jenis diantaranya merupakan jenis yang dilindungi seperti Buaya Muara (Crocodylus porosus), Buaya Senyulung (Tomistoma schlegelli), Labi-labi, Ular, Biawak, dll. Bahkan Buaya Katak atau Buaya Rabin (Crocodylus raninus) yang di Asia telah dinyatakan punah masih diketemukan di kawasan ini.

The Last Paradise

Danau Sentarum juga menyuguhkan keindahan alam  yang tak terkira hingga dijuluki sebagai The Last Paradise.
 
Suasana senja di salah satu sudut Danau
 
Lukisan alam di salah satu pemukiman masyarakat
Terancam punah

Namun keberadaan Danau Sentarum sepertinya akan terancam dengan adanya pembukaan hutan besar-besaran dengan dalih perkebunan atau illegal logging.
 
Hutan dibuka dipinggiran Sungai Kapuas di dekat kawasan Danau Sentarum.


4 komentar: